Selasa, 28 April 2009

EKOSISTEM PESISIR LAUT INDONEISA

HUTAN MANGROVE

Mangrove merupakan formasi-formasi tumbuhan pantai yang khas di sepanjang pantai tropis dan sub tropis yang terlindung. Di Indonesia, mangrove telah dikenal sebagai hutan pasang surut dan hutan mangrove, atau hutan bakau. Akan tetapi, istilah bakau sebenarnya hanya merupakan nama dari istilah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu Rhizophora spp.


Karakteristik Hutan Mangrove

• Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir.
• Daerahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove.
• Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.
• Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (hingga 38 permil).

Di hutan magrove juga terdapat peran besar atas perkembangan biota seperti gambar berikut :

Pantai Utara Jawa

1.Pantai Pangandaran – Jawa Barat
2.Indramayu – Jawa Barat
3.Muara Angke - Jakarta
4.Tegal – Jawa Tengah
5.Desa Pesantren, Pemalang – Jawa Tengah
6.Kendal – Jawa Tengah
7.Mangkang, Semarang – Jawa Tengah
8.Tugu, Semarang – Jawa Tengah
9.Genuk, Semarang – Jawa Tengah
10.Trimulyo, Semarang – Jawa Tengah
11.Menco, Demak – Jawa Tengah
12.Sayung, Demak – Jawa Tengah
13.Morosari, Demak – Jawa Tengah
14.Desa Bedono, Demak – Jawa Tengah
15.Morodadi, Demak – Jawa Tengah
16.Teluk Awur, Jepara – Jawa Tengah
17.Pulau Panjang, Jepara – Jawa Tengah
18.Pulau Karimunjawa, Jepara – Jawa Tengah
19.Ujung Piring, Jepara – Jawa Tengah
20.Desa Pasar Banggi, Rembang – Jawa Tengah



Pantai Selatan Jawa
1.Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cilacap – Jawa Tengah
2.Daerah Istimewa Yogyakarta

Jenis hutan mangrove yang paling umum kita jumpai adalah :

1. Rhizophoraceae (Pohon Bakau)
Keluarga Bakau terdiri dari :
o Bakau / Stilted Mangrove (Rhizhophorz)
o Tancang / Orange Mangrove (Bruguiera)
o Tangere / Yellow Mangrove (Ceriops)

2. Sonneratiaceae (Perepat / Gogem)
Jenis Sonneratiaceae hanya ada satu, yaitu :
o Sonneratia (Mangrove apple)
Jenis Sonneratia spp. Hidup di area yang terendam 10-19 kali perbulan.

3. Avicenniaceae (pohon api-api)
Jenis Api-api terdiri satu jenis, yaitu ;
o Avicennia (white / Grey mangrove)
Jenis pohon Api-api (Avicennia SPP). Hidup di area yang terendam 10-19 kali perbulan. Jenis Api-api banyak tumbuh di daerah paling dekat dengan laut dengan substrat agak berpasir.

4. Famili Meliaceae (Nyirih)
Jenis nyirih ini hanya ada satu jenis, yaitu :
o Xylocarpus
o Keluarga Nypa spp.

Terdapat di area yang masih dipengaruhi pasang surut.
o Hibiscus spp. Mendominasi area yang terendam secara musiman.









TERUMBU KARANG

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga. Hewan karang bentuknya aneh, menyerupai batu dan mempunyai warna dan bentuk beraneka rupa. Hewan ini disebut polip, merupakan hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Polip-polip ini selama ribuan tahun membentuk terumbu karang.

Dalam ekosistem terumbu karang ada karang yang keras dan lunak. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang.Berikut gambar ekosistem terumbu karang.

Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Jenis-jenis Terumbu Karang :

Acropora cervicornis

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora cervicornis
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni dapat terhampar sampai beberapa meter, Koloni arborescens, tersusun dari cabang-cabang yang silindris. Koralit berbentuk pipa. Aksial koralit dapat dibedakan.
Warna : Coklat muda.
Kemiripan : A. prolifera, A. formosa.
Distribusi : Perairan Indonesia, Jamaika, dan Kep. Cayman..
Habitat : Lereng karang bagian tengah dan atas, juga perairan lagun yang jernih.

Acropora elegantula

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora elegantula
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni korimbosa seperti semak. Cabang horisontal tipis dan menyebar. Aksial koralitnya jelas.
Warna : Abu-abu dengan warna ujungnya muda.
Kemiripan : A. aculeus, dan A. elseyi.
Distribusi : Perairan Indonesia, Srilanka.
Habitat : Fringing reefs yang dangkal.

Acropora acuminata

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora acuminata
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni bercabang. Ujung cabangnya lancip. Koralit mempunyai 2 ukuran.
Warna : Biru muda atau coklat.
Kemiripan : A. hoeksemai, A abrotanoides.
Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea dan Philipina.Habitat : Pada bagian atas atau bawah lereng karang yang jernih atau pun keruh.

Acropora micropthalma

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora micropthalma
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies. Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama.
Warna : Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem.
Kemiripan : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita.
Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.Habitat : Reef slope bagian atas, perairan keruh dan lagun berpasir.

Acropora millepora

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora millepora
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni berupa korimbosa berbentuk bantalan dengan cabang pendek yang seragam. Aksial koralit terpisah. Radial koralit tersusun rapat.
Warna : Umumnya berwarna hijau, orange, merah muda, dan biru.
Kemiripan : Sepintas karang ini mirip dengan A. convexa, A. prostrata, A. aspera dan A. pulchra.
Distribusi : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina dan Australia.Habitat : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan yang dangkal.

Acropora rosaria

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora rosaria
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : koloni seperti semak, cabang utama mempunyai cabang sekunder, aksial koralit besar dan berbentuk kubah tetapi tidak panjang. Radial koralit seperti kantung dan semua koralit mempunyai dinding tebal.
Warna : Umumnya berwarna krem, coklat, biru dan merah muda.
Kemiripan : Sepintas karang ini mirip dengan A. loripes.
Distribusi : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina, Papua New Guinea dan Australia.
Habitat : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.

Acropora latistella

Family : Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora latistella
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter.
Ciri-ciri : Koloni berbentuk korimbosa atau bergumpal. Aksial koralit biasanya terpisah. Radial koralit melingkar. Tentakel biasanya setiap hari bertambah panjang.
Warna : Umumnya berwarna krem, keabu-abuan, coklat, hijau dan kuning.
Kemiripan : Sepintas karang ini mirip dengan ACROPORA ROSARIA, A. subulata, A. valid, A. nana dan A. dendrum.
Distribusi : Tersebar dari Perairan Indonesia, Philipina, Papua New Guinea dan Australia.Habitat : Karang ini umumnya banyak hidup di perairan dangkal.
Penyebarannya

1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)
Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), P. Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)
Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.5¬2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Great Barrier Reef (Australia), Spermonde (Sulawesi Selatan), Banggai Kepulauan (Sulawesi Tengah).

3. Terumbu karang cincin (atolls)
Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau¬pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. Menurut Darwin, terumbu karang cincin merupakan proses lanjutan dari terumbu karang penghalang, dengan kedalaman rata-rata 45 meter. Contoh: Taka Bone Rate (Sulawesi), Maratua (Kalimantan Selatan), Pulau Dana (NTT), Mapia (Papua)

4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)
Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)

PADANG LAMUN

Lamun sendiri adalah sejenis tumbuhan yaitu tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup tergenang di dalam air laut. Tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 3 meter dilautan tropis hingga sub tropis. Lamun bisa tumbuh pada daerah yang sangat luas, di pasir kasar/ puing-puing karang atau lumpur halus dasar laut. Lamun juga membentuk padang yang padat dan produktif hingga disebut sebagai padang lamun.

Fungsi padang lamun sebenarnya melengkapi ekosistem mangrove dan terumbu karang. Sebagai ekosistem perairan laut dangkal ini sangat potensial sebagai sumber makanan biota kecil dan biota tertentu seperti dugong, biota omnivora serta biota pemakan hijauan.



Keberadaan padang lamun di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, adalah membantu menstabilkan perairan dan memantapkan substrat dasar. Daun lamun yang lebat akan memperlambat gerakan air akibat arus dan ombak sehingga perairan menjadi tenang.

Fungsi lainnya adalah rimpang dan akar lamun dapat menangkap dan mengikat sedimen sehingga dapat menguatakan dan menstabilkan dasar permukaan. Padang lamun bisa dikatakan mencegah terjadinya erosi.




jenis jenis padang lamun

Cymodocea rotundata Terdapat di daerah intertidal dan merupakan makanan duyung

C. serrulata Umum dijumpai di daerah intertidal di dekat mangrove, dan merupakan makanan duyung

Enhalus acoroides Tumbuh pada substrat berlumpur dan perairan keruh, dapat membentuk padang lamun spesies tunggal, atau mendominasi komunitas padang lamun

Halodule pinifolia Pertumbuhannya cepat, merupakan spesies pionir, umum dijumpai di substrat berlumpur



H. uninervis Membentuk padang lamun spesies tunggal padarataan karang yang rusak

Halophila decipiens Dikenal sebagai makanan duyung

H. ovalis Dapat merupakan spesies yang dominan di daerah intertidal, mampu tumbuh sampai kedalaman 25 m



H.spinulosa Merupakan makanan duyung

Thalassia hemprichii Umum dijumpai di daerah subtidal yang dangkal dan berlumpur

Thalassodendron ciliatum Paling banyak dijumpai, biasa tumbuh dengan spesies lain, dapat tumbuh hingga kedalaman 25 m. Sering dijumpai pada substrat berpasir. Sering mendominasi di zona subtidal dan berasosiasi dengan terumbu karang sampai kedalaman 30 m, di lereng terumbu karang

RUMPUT LAUT

Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati.

Jenis jenis rumput laut di Indonesia sekitar 670 jenis. Jenis yang dibawah ini yang paling terkenal.

1. Dried Seaweed



2. E. Cottoni
3. Gracilaria



4. Gelidium



5. Gelidiella sebagai penghasil Agar



6. Marga Hypnea
7. Eucheuma



8. Spinosum



untuk rumput laut jenis spinosum, ini adalah salah satu dari beberapa jenis rumput laut yang sangat langka di Dunia dan terdapat di Nusa Penida.

Jumat, 10 April 2009


Sungai Ciliwung
Sungai Ciliwung adalah sungai yang menjadi slah satu sungai terpenting di kawasan kota kota sub
-urban dan juga metropolitan Indonesia. Sungai ini mengalir dari hulu sungai di Puncak, Cisarua kab. Bogor hingga berakhir di wilayah sunda kelapa, perairan teluk Jakarta. Sungai ini memiliki kemampuan mengalirkan air hingga 251 meter kubik per detik. Oleh sebab itu Sungai Ciliwung menjadi salah satu unsur utama pemenuh kebutuhan masyarakat Ibu kota dalam memenuhi kebutuhan sehari- hari. Bahkan menurut sejarah, sungai ciliwung adalah sungai terbesar di Batavia ( Jakarta ) yang dapat dijadikan pintu masuk kapal kapal besar untuk kepentingan perdagangan Belanda. Buktinya di daerah Pasar Baru, terdapat Jembatan yang dapat diangkat untuk masuknya kapal dagang Asing di zaman Penjajahan Belanda.













Ini adalah jembatan yang dibangun

Belanda agar dapat dilewati Kapal

perdagangan.


Lalu, apakah sungai ini berjalan sesuai dengan kemampuannya di saat sekarang ini ? Mungkin sulit untuk menjawabnya karena Sungai Ciliwung yang kita kenal sekarang adalah “ tersangka “ utama yang sering muncul dibalik banjir banjir yang terjadi di Ibu kota. Hal ini disebabkan karena kondisi sungai Ciliwung yang tidak mampu menjalankan fungsi mengalirkan air dengan baik lagi kerena beberapa masalah dari faktor manusia dan juga alam. Akibat-akibatnya sering dirasakan oleh warga Jakarta, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.

Banjir ini pun kian meluas dari tahun ke tahun. Bahkan menurut data dari Pemda DKI Jakarta tahun 2008, banjir akibat sungai ciliwung telah “ berhasil ” menggenangi hingga 78% meter persegi wilayah DKI Jakarta. Tetapi tidak hanya itu saja yang menyebabkan banjir kian meluas di Jakarta. Kurangnya lahan hijau juga menjadi faktor penyebab banjir. Karena lahan ini menjadi tempatnya Infiltrasi air yang jatuh ke permukaan tanah. Bayangkan saja, di DKI Jakarta sekarang hanya memiliki wilayah Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) seluas 9,7 % saja dari RTH awal sebesar 30% pada tahun 1985. Hal ini menimbulkan penurunan Infiltrasi di wilayah DKI Jakarta dan menyebabkan Limpasan air semakin banyak. Banjir yang semakin meluas sangat lah mengkhawatirkan. Mengapa tidak ? Jakarta adalah salah satu Kota Utama di Indonesia. Selain sebagai Ibu Kota, Jakarta juga menjadi tempat dimana perputaran uang terbesar di Indonesia terjadi. Jadi dengan adanya Banjir maka semua aktivitas perekonomian dan lain lain akan terhambat. Sebenarnya apa yang menjadi masalah dari penyebab banjir in terutama dari sungai ciliwung ? Pastinya ada faktor faktor yang sangat mempengaruhi. seperti yang telah saya sebutkan diatas, ada 2 faktor yang menjadi alas an Banjir akibat sungai Ciliwung. Satu, pastinya faktor manusia yang sudah tidak asing lagi. Banyak penduduk yang melakukan penyempitan bantaran sungai oleh sebab ingin mendirikan tempat hunian atau tempat beraktivitas.


Hal ini sering muncul di Jakarta karena banyaknya angka kemiskinan akibat pendatang baru yang nekat ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Ini menyebabkan ketidaktertiban dalam penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya dan menjadikan lebar sungai yang semakin kecil atau penyempitan sungai dan menjadikan sungai tak sesuai dengan massa air yang seharusnya mengalir. Tempat tempat hunian di bantaran sungai ini pun dapat terancam terkena penyakit bagi penghuninya dan juga dapat terseret arus yang suatu saat dapat meluap pada saat musim penghujan.




Kedua, adalah sampah. Hal ini pastinya sudah menjadi “ pelaku “ utama dari banjir banjir di Indonesia, begitu pula Jakarta. Memang kesadaran di masyarakat masih kurang dalam hal pembuangan sampah pada tempatnya, apalagi dengan mulai bertumbuhnya penduduk yang menyebabkan pola konsumsi di suatu wilayah tidak dapat menampung semua sampah yang ada. Hal ini menyebabkan Sungai Ciliwung yang melewati beberapa kota seperti Bogor, Depok dan Jakarta akan tersumbat oleh adanya sampah. Mungkin di wilayah kota Bogor dan Depok tidak terlalu terasa dampaknya karena berada di daerah tinggi dan Sungai Cilliwung masih mengalir ke arah Jakarta yang menjadi akhir dari Sungai yang memiliki panjang 60 km ini. Oleh sebab itu mulai dicanangkan ProKaSih ( Program Kali Bersih )di wilayah wilayah yang teraliri sungai Ciliwung guna menjaga kebersihan sungai. Ketiga, yang menjadi masalah adalah pencemaran limbah limbah rumah tangga dan usaha lain ke sungai Ciliwung. Hal ini menyebabkan kematian Biota di sungai Ciliwung.

Keempat, adalah faktor alam. Salah satunya dalah intensitas curah hujan yang meningkat akibat Global Warming yang jelas tidak menguntungkan Jakarta karena berada di dataran rendah. Kecepatan air yang tinggi dengan volume air yang besar mampu merusak sekaligus membahayakan. Hal ini juga menambah banyaknya bantaran sungai yang rusak, tanggul yang jebol ataupun pengikisan lahan dan batuan. Selain itu adanya pendangkalan sungai Ciliwung di bagian hilir sungai juga menjadi salah satu alasan kuat terjadi banjir akibat sungai Ciliwung. Hal itu disebabkan derasnya aliran air yang mampu mengikis batuan dan tanah yang dilewatinya. Kemudian menimbulkan endapan bagi wilayah hilir. Kondisi ini membuat fungsi sungai mengalami penurunan akibat endapan dan juga berpotensi membuat banjir disetiap musim penghujan. Namun, penanganan dapat dilakukan dengan melakukan pengerukan
















Sungai Ciliwung juga merupakan salah satu sungai konsumsi di zaman dahulu. Tetapi sekarang Berdasar parameter biologi (fecal coli dan total coliform), DO (dissolfed oxygen), BOD (biochemical oxygen demand), dan COD (chemical oxygen demand), tidak ada segmen Sungai Ciliwung yang mutu airnya memenuhi kriteria kelas I atau dapat disebut yang layak digunakan sebagai air baku untuk air minum. Pada segmen 1 pada hulu sungai Ciliwung yang terletak di Cisarua (Kabupaten Bogor), air Sungai Ciliwung masuk kriteria kelas II. Artinya, kualitas airnya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, perikanan, peternakan, dan pertamanan. Segmen 2 dan 4, Ciawi (Kota Bogor) dan Cimanggis (Kota Depok), kondisi kualitas airnya kelas IV, hanya layak untuk mengairi pertamanan. Segmen 3 di Cibinong (Kabupaten Bogor) berkualitas kelas III, bisa untuk perikanan, peternakan, dan pertamanan. Sedangkan segmen 5 di wilayah DKI Jakarta, tidak termasuk dalam kelas mana pun. Artinya, tidak layak dimanfaatkan untuk kegiatan apa pun.

Oleh sebab itu baiknya kita menjaga sungai ciliwung karena merupakan urat nadi kota-kota di Jakarta dan sekitarnya.

Selasa, 07 April 2009